Kekuatan Pikiran

Saat ini saya sedang membaca buku Terapi Berpikir Positif karya Dr. Ibrahim Elfiky. Saya ingin berbagi sedikit [karena bacanya memang baru sedikit..he] mengenai isi buku tersebut. Saya tertarik membeli buku tersebut karena di sampul buku terdapat tulisan “International Best Seller”. Saya penasaran apa sih yang membuat buku itu laris, mengapa buku sebuah terapi berpikir bisa begitu banyak peminatnya, apa sih pentingnya berpikir positif, dan apa sih susahnya berpikir positif sehingga harus ada terapi segala..hehe.. Dan pada bab pertama buku tersebut yang berjudul “Kekuatan Pikiran” saya menemukan jawabannya. Berikut isi bab awal buku tersebut.

Dalam al-Khawathir, Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi mengatakan, “Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai lebih baik dan lebih menjamin masa depan diri dan keluarganya.” Dengan berpikir, kata James Allan, seseorang bisa menentukan pilihannya. Dalam psikologi-sosial, ilmuwan mendifinisikan “berpikir” sebagai bagian terpenting yang membedakan manusia dari binatang, tumbuhan, dan benda mati. Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat; antara yang halal dan yang haram; antara yang positif dan yang negatif. Dengan begitu, ia bisa memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Dalam Quwwat al-Tahakkum fi al-Dzat, mengutip kalimat bijak dari filsafat India Kuno, “Hari ini Anda tergantung pada pikiran yang datang saat ini. Besok Anda ditentukan oleh kemana pikiran membawa Anda.” Begitulah kenyataannya. Perasaan dan perbuatan pasti dimulai dari pikiran. Pikiranlah yang menjadi pendorong setiap perbuatan dan dampaknya. Pikiranlah yang menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian, dan rasa percaya diri.

Dalam Aladdin Factor karya Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen saya menemukan informasi yang menghentak kesadaran. Dalam buku itu disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif.

Pada 1986, penelitian Fakultas Kedokteran di San Francisco menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa nafsu cenderung menyuruh pada keburukan. Dengan hitung-hitungan sederhana, 80% dari 60.000 pikiran, berarti setiap hari kita memiliki 48.000 pikiran negatif. Semua itu turut mempengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian, kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benak kita.

Sekarang saya ingin bertanya:

Ketika anda merasa lapar dan di hadapan Anda tersaji tiga menu: makanan rumahan, makanan hotel berbintang lima, dan makanan dari keranjang sampah. Mana yang akan anda pilih?

Tentunya anda akan memilih makanan hotel atau makanan rumahan, tak seorang pun memilih dari keranjang sampah. Mengapa demikian? Karena setiap orang sangat memperhatikan kelangsungan hidupnya. Tak seorang pun memilih sesuatu yang berdampak negatif bagi kelangsungan hidupnya.

Jika manusia benar-benar tidak ingin meletakkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuhnya, mengapa ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang berpengaruh negatif pada setiap aspek hidupnya, termasuk kesehatan jiwa dan raganya? Mengapa ia memberi gizi pikirannya dari keranjang sampah? Hal ini bergantung pada proses sebelumnya: orang tua, keluarga, lingkungan, sekolah, dan media informasi.

Jadi, kita hampir tidak punya pilihan gizi untuk pikiran dan proses perkembangannya. Kini saatnya kita memilih berbagai pikiran seperti halnya kita memilih makanan yang kita santap dan pakaian yang kita kenakan. Untuk mewujudkan semua itu, kita harus tetap tawakal pada Allah. Kita mulai dari memahami arti pikiran dan kekuatannya. Pikiran adalah kekuatan. Dalam Al-Quran Allah SWT membedakan antara orang yang berilmu dan yang tidak. Dia berfirman, Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (al-Zumar: 9).

Karena itu, mari kita mulai menjelajahi kekuatan pikiran.[]

Begitulah bab pembuka buku tersebut. Masihkah anda mau berpikir negatif?

Pikitan adalah kekuatan yang sangat efektir. Tanpanya, setiap kekuatan hanya besar saja. [Victor Hugo]

Kemuliaan manusia terletak pada pikirannya. [Pascal]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s